“Assalamualaikum. Ukhti bisakah keluar sebentar? Lihatlah langit, ada
bulan sabit dengan dua bintang diatasnya. Subhanallah, indah sekali.”
Sms yang cukup panjang itu mampir di HP sunyoto, beberapa waktu
yang lalu. Annisa pun keluar rumah dan melihat langit. Benar, malam itu
ada pemandangan langka. Bulan sabit tersenyum dengan berhiaskan dua
bintang tepat diatasnya. sunyoto lalu membalas sms Salma, sahabatnya,
”Iya Ukh, subhanallah, indah sekali. Syukron!”
Ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala di alam ini, kalau kita
resapi keindahannya memang seringkali menggetarkan jiwa. Adakalanya kita
menjadi sangat kecil di hadapanNya. Bulan sabit yang tersenyum atau
purnama yang bersinar menerangi alam, pesona mentari yang baru terbit
atau tenggelam, ombak di lautan yang selalu menggetarkan, juga gunung
berapi yang kokoh menjulang, sementara aktivitas vulkanik di dalamnya
terus menggelegak. Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu
dustakan?
Hanya kalimat subhanallah, wallahu akbar (Maha Suci Allahdan
Allah Maha Besar) yang pantas terucap saat kita terkagum-kagum
menyaksikan pesona alam atau ayat-ayat qauniyah Allah Ta’ala itu.
sunyoto jadi teringat pengalamannya saat bersama keluarganya
berkunjung ke lereng gunung Merapi beberapa waktu setelah gunung itu
meletus. Saat itu ia hanya berada beberapa meter di bawah puncak gunung
berapi teraktif di dunia itu. Puncak gunung yang kroak (seperti ada
lekukan kawahnya) itu sudah tidak lagi mengeluarkan lava pijar. Tinggal
pasir dan bebatuan yang tidak panas lagi, yang menjadi saksi peristiwa
itu.
Ya, beberapa waktu yang lalu… gunung tampak tenang itu telah
memuntahkan lahar, pasir, bebatuan dan awan panas! Hampir semua yang
dilewatinya tidak bisa selamat. Rumah-rumah roboh, pepohonan tumbang,
dan manusia serta hewan banyak yang kehilangan nyawa… Mereka semua
terpanggang lahar yang berpijar atau terjebak wedhus gembel (awan panas)
yang bisa membuat kuliat kulit terkelupas dan mematikan. Mata Annisa
saat itu terpaku pada sebuah bunker (tempat berlindung di bawah tanah)
yang tepat berada di hadapannya. Ia baca di koran, di bunker itu…
beberapa nyawa yang ingin berlindung dari amukan Merapi kala itu, tewas
terpanggang. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun…
Siapa pun memang tak bisa menghindar, bila waktu yang telah
ditentukan itu datang. Maut, setiap kita tak pernah tahu kapan ia akan
menjemput. Sudahkah kita mensyukuri segala nikmatNya yang tak terhitung
sebelum malaikat maut menghampiri kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar